Sejalan awan yang mengiring dibawah mentari, aku pacu langkah menuju hari ditengah tawa, canda, begitupun duka. setiap jengkal tanah kuinjak menanda tapak sebelum hari menjadi gelap. bising suara dunia yang terus berputar seiring angin yang terus berhembus menghantam harap pada sejengkal niat. entahlah dimana kudapat temukan sebidang tanah untuk ku bangun sebait harapan, tempat ku menggali diri sembari menghela nafas.
kini aku masih berdiri mencari tanpa mencaci, karena keburaman nampak pada sebuah wajah yang menggoda dipenghujung malam. tiada suara bahkan canda pembawa candu, tapi wajah itu terus mempesona membelai harap mencaci murka, sampai kebiadaban itu musnah dalam tembikar muram.
sampai saat ini, aku menarik garis dalam laju langkah usia yang kian menguning. "urungkan niatmu, karena didepan kamu masih harus tetap berjuang membawa nurani dalam diri, mencipta etika karena norma, dan memikul tanggung jawab karena kewajibanmu pada yang Maha Kuasa juga sesama". nasehat sang Bapak kepada anaknya. "semoga kau dapat mengerti gelisah sang mentari pagi, anakku...." lanjutnya sembari menarik nafas kemudian melangkah menuju kamar tidurnya.
Monday, March 9, 2009 at 1:06am
No comments:
Post a Comment