Hunting

Wednesday, September 26, 2012

rangkuman semusim

Sejalan awan yang mengiring dibawah mentari, aku pacu langkah menuju hari ditengah tawa, canda, begitupun duka. setiap jengkal tanah kuinjak menanda tapak sebelum hari menjadi gelap. bising suara dunia yang terus berputar seiring angin yang terus berhembus menghantam harap pada sejengkal niat. entahlah dimana kudapat temukan sebidang tanah untuk ku bangun sebait harapan, tempat ku menggali diri sembari menghela nafas.

kini aku masih berdiri mencari tanpa mencaci, karena keburaman nampak pada sebuah wajah yang menggoda dipenghujung malam. tiada suara bahkan canda pembawa candu, tapi wajah itu terus mempesona membelai harap mencaci murka, sampai kebiadaban itu musnah dalam tembikar muram.

sampai saat ini, aku menarik garis dalam laju langkah usia yang kian menguning. "urungkan niatmu, karena didepan kamu masih harus tetap berjuang membawa nurani dalam diri, mencipta etika karena norma, dan memikul tanggung jawab karena kewajibanmu pada yang Maha Kuasa juga sesama". nasehat sang Bapak kepada anaknya. "semoga kau dapat mengerti gelisah sang mentari pagi, anakku...." lanjutnya sembari menarik nafas kemudian melangkah menuju kamar tidurnya.

Monday, March 9, 2009 at 1:06am

untuk mu yg ku damba...

I
kenapa kau anggap berlebihan,
Sedang kaupun tak tau rasa ini,
Rasa dimana mentari enggan memancarkan sinarnya,
Sedang rembulan hanya mampu menangis dalam pekat'a malam,
merindukan secercah sinar untuk menemani binatang malam yg bernyanyi memecah kesunyian,

Ya, udara malam ini terlalu segar untuk ku hirup seorang diri dengan berbalut kain sarung sambil menikmati secangkir air hangat tawar dan sebatang rokok yg tiba2 menjadi tawar juga.

'pun kemudian kulantunkan sebait kenangan saat bara itu menyala didalam dada, sebelum kesunyian ini membekukan bara itu menjadi sebongkah es kecil seperti yg sering dipakai orang untuk segelas minuman keras...

Lalu apa yg harus aku lakukan agar sinar mu hangat membelai kulitku dan kembali menyalakan bara api dalam dada ini?

Timbul, jaksel
Feb-2/11 02.12 WIB

II
kini yang ku damba dengan segala lika-likunya mencoba menengelamkan diri ditengah lautan kehidupan, mencoba bersembunyi dibalik guguran ranting pohon yang mengambang di depan mataku...
aku masih disini menanti kata setia yang menjadi komitmen kita ke masa depan...

Timbul, Feb-07/11