Hunting

Sunday, July 18, 2010

Puisi-Puisi Soe Hok Gie




"Pesan"

puisi Soe Hok Gie, dari harian Sinar Harapan 18 Agustus 1973

Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran

Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi

Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?


"Sebuah Tanya"
{Soe Hok Gie}

“akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”

(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”

(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)

“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”


puisi GIE
{Tanpa Judul}
ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku

bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi
ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra

tapi aku ingin mati di sisimu sayangku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu

mari, sini sayangku
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
tegakklah ke langit atau awan mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa”

Catatan dari Puncak Semeru

Soe Hok Gie dan Mahameru adalah dua legenda Indonesia, sedangkan hubungan antara keduanya?
Soe Hok Gie wafat di Mahameru saat melakukan pendakian pada 18 Desember 1969 karena menghirup asap beracun gunung tersebut. Soe Hok Gie dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942. Dia adalah sosok aktifis yang sangat aktif pada masanya. Sebuah karya catatan hariannya yang berjudul Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran setebal 494 halaman oleh LP3ES diterbitkan pada tahun 1983. Soe Hok Gie tercatat sebagai mahasiswa Universitas Indonesia dan juga merupakan salah satu pendiri Mapala UI yang salah satu kegiatan terpenting dalam organisasi pecinta alam tersebut adalah mendaki gunung. Gie juga tercatat menjadi pemimpin Mapala UI untuk misi pendakian Gunung Slamet, 3.442m. Kemudian pada 16 Desember 1969, Gie bersama Mapala UI berencana melakukan misi pendakian ke Gunung Mahameru (Semeru) yang mempunyai ketinggian 3.676m. Banyak sekali rekan-rekannya yang menanyakan kenapa ingin melakukan misi tersebut. Gie pun menjelaskan kepada rekan-rekannya tesebut : “Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”
Sebelum berangkat, Gie sepertinya mempunyai firasat tentang dirinya dan karena itu dia menuliskan catatannya :
“Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.”
Dari beberapa catatan kecil serta dokumentasi yang ada, termasuk buku harian Gie yang sudah diterbitkan, Catatan Seorang Demonstran (CSD) (LP3ES, 1983), berikut beberapa kisah yang mewarnai tragedi tersebut yang saya kutip dari Intisari :
Suasana sore hari bergerimis hujan dan kabut tebal, tanggal 16 Desember 1969 di G. Semeru. Seusai berdoa dan menyaksikan letupan Kawah Jonggringseloko di Puncak Mahameru (puncaknya G. Semeru) serta semburan uap hitam yang mengembus membentuk tiang awan, beberapa anggota tim terseok-seok gontai menuruni dataran terbuka penuh pasir bebatuan, mereka menutup hidung, mencegah bau belerang yang makin menusuk hidung dan paru-paru. Di depan kelihatan Gie sedang termenung dengan gaya khasnya, duduk dengan lutut kaki terlipat ke dada dan tangan menopang dagu, di tubir kecil sungai kering. Tides dan Wiwiek turun duluan.
Dengan tertawa kecil, Gie menitipkan batu dan daun cemara. Katanya, “Simpan dan berikan kepada kepada ‘kawan-kawan’ batu berasal dari tanah tertinggi di Jawa. Juga hadiahkan daun cemara dari puncak gunung tertinggi di Jawa ini pada cewek-cewek FSUI.” Begitu kira-kira kata-kata terakhirnya, sebelum turun ke perkemahan darurat dekat batas hutan pinus atau situs recopodo (arca purbakala kecil sekitar 400-an meter di bawah Puncak Mahameru).
Di perkemahan darurat yang cuma beratapkan dua lembar ponco (jas hujan tentara), bersama Tides, Wiwiek dan Maman, mereka menunggu datangnya Herman, Freddy, Gie, dan Idhan. Hari makin sore, hujan mulai tipis dan lamat-lamat kelihatan beberapa puncak gunung lainnya. Namun secara berkala, letupan di Jonggringseloko tetap terdengar jelas.
Menjelang senja, tiba-tiba batu kecil berguguran. Freddy muncul sambil memerosotkan tubuhnya yang jangkung. “Gie dan Idhan kecelakaan!” katanya. Tak jelas apakah waktu itu Freddy bilang soal terkena uap racun, atau patah tulang. Mulai panik, mereka berjalan tertatih-tatih ke arah puncak sambil meneriakkan nama Herman, Gie, dan Idhan berkali-kali.
Beberapa saat kemudian, Herman datang sambil mengempaskan diri ke tenda darurat. Dia melapor kepada Tides, kalau Gie dan Idhan sudah meninggal! Kami semua bingung, tak tahu harus berbuat apa, kecuali berharap semoga laporan Herman itu ngaco. Tides sebagai anggota tertua, segera mengatur rencana penyelamatan.
Menjelang maghrib, Tides bersama Wiwiek segera turun gunung, menuju perkemahan pusat di tepian (danau) Ranu Pane, setelah membekali diri dengan dua bungkus mi kering, dua kerat coklat, sepotong kue kacang hijau, dan satu wadah air minum. Tides meminta beberapa rekannya untuk menjaga kesehatan Maman yang masih shock, karena tergelincir dan jatuh berguling ke jurang kecil.
“Cek lagi keadaan Gie dan Idhan yang sebenarnya,” begitu ucap Tides sambil pamit di sore hari yang mulai gelap. Selanjutnya, mereka berempat tidur sekenanya, sambil menahan rembesan udara berhawa dingin, serta tamparan angin yang nyaris membekukan sendi tulang.
Baru keesokan paginya, 17 Desember 1969, mereka yakin kalau Gie dan Idhan sungguh sudah tiada, di tanah tertinggi di Pulau Jawa. Mereka jumpai jasad keduanya sudah kaku. Semalam suntuk mereka lelap berkasur pasir dan batu kecil G. Semeru. Badannya yang dingin, sudah semalaman rebah berselimut kabut malam dan halimun pagi. Mata Gie dan Idhan terkatup kencang serapat katupan bibir birunya. Mereka semua diam dan sedih.

Soe Hok Gie telah menjadi salah satu Dewa yang memuncaki Mahameru, Puncak Abadi Para Dewa.

SOE HOK GIE & IDHAN LUBIS
Mahameru, Gn. Semeru, 16 Desember 1969 – 16 Desember 2002
INDONESIAN GREEN RANGER
MAHAMERU
Yang mencintai udara jernih
Yang mencintai terbang burung-burung
Yang mencintai keleluasaan dan kebebasan
Yang mencintai bumi

Mereka mendaki ke puncak gunung-gunung
Mereka tengadah dan berkata, kesana-lah Soe Hok Gie & Idhan Lubis pergi
Kembali ke pangkuan bintang-bintang

Sementara bunga-bunga negeri ini tersebar sekali lagi
Sementara saputangan menahan tangis
Sementara Desember menabur gerimis
24 Desember 1969
SANENTO YULIMAN

source : http://korpcitaka.wordpress.com/journal-citaka/soe-hok-gie-dan-mahameru/

http://restigusti09.student.ipb.ac.id/2010/01/27/in-memoriam/

Biografi Soe Hok Gie ( 1942-1969)


Soe Hok Gie adalah Orang keturunan China yang lahir pada 17 Desember 1942. Seorang putra dari pasangan Soe Lie Pit —seorang novelis— dengan Nio Hoe An. Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan, Soe Hok Gie merupakan adik dari Soe Hok Djie yang juga dikenal dengan nama Arief Budiman. Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta.

Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta. Menurut seseorang peneliti, sejak masih Sekolah Dasar (SD), Soe Hok Gie bahkan sudah membaca karya-karya sastra yang serius, seperti karya Pramoedya Ananta Toer. Mungkin karena Ayahnya juga seorang penulis, sehingga tak heran jika dia begitu dekat dengan sastra.

Sesudah lulus SD, kakak beradik itu memilih sekolah yang berbeda, Hok Djin (Arief Budiman) memilih masuk Kanisius, sementara Soe Hok Gie memilih sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Strada di daerah Gambir. Konon, ketika duduk di bangku ini, ia mendapatkan salinan kumpulan cerpen Pramoedya: “Cerita dari Blora” —bukankah cerpen Pram termasuk langka pada saat itu?

Pada waktu kelas dua di sekolah menangah ini, prestasi Soe Hok Gie buruk. Bahkan ia diharuskan untuk mengulang. Tapi apa reaksi Soe Hok Gie? Ia tidak mau mengulang, ia merasa diperlakukan tidak adil. Akhirnya, ia lebih memilih pindah sekolah dari pada harus duduk lebih lama di bangku sekolah. Sebuah sekolah Kristen Protestan mengizinkan ia masuk ke kelas tiga, tanpa mengulang.
Selepas dari SMP, ia berhasil masuk ke Sekolah Menengan Atas (SMA) Kanisius jurusan sastra. Sedang kakaknya, Hok Djin, juga melanjutkan di sekolah yang sama, tetapi lain jurusan, yakni ilmu alam.
Selama di SMA inilah minat Soe Hok Gie pada sastra makin mendalam, dan sekaligus dia mulai tertarik pada ilmu sejarah. Selain itu, kesadaran berpolitiknya mulai bangkit. Dari sinilah, awal pencatatan perjalanannya yang menarik itu; tulisan yang tajam dan penuh kritik.

Ada hal baik yang diukurnya selama menempuh pendidikan di SMA, Soe Hok Gie dan sang kakak berhasil lulus dengan nilai tinggi. Kemuidan kakak beradik ini melanjutkan ke Universitas Indonesia. Soe Hok Gie memilih ke fakultas sastra jurusan sejarah , sedangkan Hok Djin masuk ke fakultas psikologi.Di masa kuliah inilah Gie menjadi aktivis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengritik tajam rejim Orde Baru.
Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah kemudian selepas mereka lulus berpihak ke sana dan lupa dengan visi dan misi perjuangan angkatan 66. Gie memang bersikap oposisif dan sulit untuk diajak kompromi dengan oposisinya.
Selain itu juga Gie ikut mendirikan Mapala UI. Salah satu kegiatan pentingnya adalah naik gunung. Pada saat memimpin pendakian gunung Slamet 3.442m, ia mengutip Walt Whitman dalam catatan hariannya, “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth”.

Pemikiran dan sepak terjangnya tercatat dalam catatan hariannya. Pikiran-pikirannya tentang kemanusiaan, tentang hidup, cinta dan juga kematian. Tahun 1968 Gie sempat berkunjung ke Amerika dan Australia, dan piringan hitam favoritnya Joan Baez disita di bandara Sydney karena dianggap anti-war dan komunis. Tahun 1969 Gie lulus dan meneruskan menjadi dosen di almamaternya.
Bersama Mapala UI Gie berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676m. Sewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata kepada teman-temannya:
“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”
8 Desember sebelum Gie berangkat sempat menuliskan catatannya: “Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.” Hok Gie meninggal di gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis. Selanjutnya catatan selama ke Gunung Semeru lenyap bersamaan dengan meninggalnya Gie di puncak gunung tersebut.
Makam soe Hok Gie24 Desember 1969 Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun dua hari kemudian dipindahkan ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. Tahun 1975 Ali Sadikin membongkar Pekuburan Kober sehingga harus dipindahkan lagi, namun keluarganya menolak dan teman-temannya sempat ingat bahwa jika dia meninggal sebaiknya mayatnya dibakar dan abunya disebarkan di gunung. Dengan pertimbangan tersebut akhirnya tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango.



Beberapa quote yang diambil dari catatan hariannya Gie:

“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

“Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”

“Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan…”

Selain Catatan Seorang Demonstran, buku lain yang ditulis Soe Hok Gie adalah Zaman Peralihan, Di Bawah Lentera Merah (yang ini saya belum punya) dan Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan serta riset ilmiah DR. John Maxwell Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani.

Mira Lesmana dan Riri Reza bersama Miles Production telah meluncurkan film berjudul “Gie” yang diperankan oleh Nicholas Saputra, Sita Nursanti, Wulan Guritno, Lukman Sardi dan Thomas Nawilis.

Catatan Seorang Demonstran

John Maxwell berkomentar, “Gie hanya seorang mahasiswa dengan latar belakang yang tidak terlalu hebat. Tapi dia punya kemauan melibatkan diri dalam pergerakan. Dia selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan bangsanya. Walaupun meninggal dalam usia muda, dia meninggalkan banyak tulisan. Di antaranya berupa catatan harian dan artikel yang dipublikasikan di koran-koran nasional” ujarnya. “Saya diwawancarai Mira Lesmana (produser Gie) dan Riri Reza (sutradara). Dia datang setelah membaca buku saya. Saya berharap film itu akan sukses. Sebab, jika itu terjadi, orang akan lebih mengenal Soe Hok Gie” tuturnya.







Ref : http://prasetyaade.blogspot.com/2006/12/presiden-soekarno-presiden-pertama.html
http://yulian.firdaus.or.id/2004/12/16/soe-hok-gie/
http://id.wikipedia.org/wiki/Soe_Hok_Gie

Wednesday, July 14, 2010

What is Java Servlets?

Servlets are server side components that provide a powerful mechanism for developing server side programs. Servlets provide component-based, platform-independent methods for building Web-based applications, without the performance limitations of CGI programs. Unlike proprietary server extension mechanisms (such as the Netscape Server API or Apache modules), servlets are server as well as platform-independent. This leaves you free to select a "best of breed" strategy for your servers, platforms
, and tools. Using servlets web developers can create fast and efficient server side application which can run on any servlet enabled web server. Servlets run entirely inside the Java Virtual Machine. Since the Servlet runs at server side so it does not checks the browser for compatibility. Servlets can access the entire family of Java APIs, including the JDBC API to access enterprise databases. Servlets can also access a library of HTTP-specific calls, receive all the benefits of the mature java language including portability, performance, reusability, and crash protection. Today servlets are the popular choice for building interactive web applications
. Third-party servlet containers are available for Apache Web Server, Microsoft IIS, and others. Servlet containers are usually the components of web and application servers, such as BEA WebLogic Application Server, IBM WebSphere, Sun Java System Web Server, Sun Java System Application Server and others.

Servlets are not designed for a specific protocols. It is different thing that they are most commonly used with the HTTP protocols Servlets uses the classes in the java packages javax.servlet and javax.servlet.http. Servlets provides a way of creating the sophisticated server side extensions in a server as they follow the standard framework and use the highly portable java language.

HTTP Servlet typically used to:

* Priovide dynamic content like getting the results of a database query and returning to the client.
* Process and/or store the data submitted by the HTML.
* Manage information about the state of a stateless HTTP. e.g. an online shopping car manages request for multiple concurrent customers.


source : http://www.roseindia.net/servlets/

Tuesday, July 13, 2010

Kuasai Informasi untuk Kuasai Dunia!

Informasi adalah komoditas dan aset paling bernilai di masa sekarang.

Siapapun pihak yang mampu mengumpulkan, memproses, mengelola, mendistribusikan dan memanfaatkan informasi maka dialah yang akan menguasai dunia.

Segala sendi kehidupan manusia seperti ekonomi, politik, keamanan, sosial, budaya bahkan agama hanya bisa bertahan maupun berkembang dengan kemampuan seperti pihak yang digambarkan di atas.

Mengapa informasi menjadi hal yang sangat bernilai?

Informasi adalah dasar dalam pengambilan setiap keputusan yang kita ambil. Mengambil keputusan tanpa memiliki informasi yang memadai dari segala sisi dapat diibaratkan seperti berjalan dengan sebelah kaki.

Perjalanan yang harus kita tempuh menjadi timpang dan tentunya kalah cepat dibandingkan yang mampu berlari dengan kedua kakinya.

Sayangnya kesadaran mengenai tingginya nilai informasi tidak terlalu besar di masyarakat kita.

Cara pandang masyarakat kita masih berkutat pada konsep bahwa komoditas dan aset haruslah berupa barang. Padahal barang yang menjadi aset dan komoditas tersebut tidak akan pernah diproduksi hingga didistribusikan tanpa dukungan informasi.

Pada akhirnya, hal terpenting dari barang tersebut adalah kenyataan bahwa informasilah yang menyebabkannya memiliki nilai!

Contoh sederhana adalah guano. Guano adalah kotoran kelelawar yang bagi mungkin bagi banyak orang hanyalah onggokan kotoran yang mengganggu. Padahal jika orang-orang tersebut mengetahui informasi bahwa guano bisa diolah menjadi produk-produk komersil seperti pupuk dan biogas dengan nilai tinggi tetapi biaya pemrosesan rendah mereka akan berlomba-lomba menguasainya!

Para pelaku bisnis di Indonesia pun mayoritas masih memiliki cara pandang bahwa informasi hanyalah sekedar pelengkap dalam usahanya.

Aset dan komoditas terpenting mereka adalah barang ataupun jasa. Tapi pernahkah mereka membayangkan bahwa produk-produk barang atau jasa yang sukses di pasaran adalah hasil manajemen informasi yang terkelola dengan baik?

Dengan manajemen informasi yang baik maka para pelaku usaha dapat mengambil keputusan-keputusan berkualitas yang memiliki kemungkinan ketepatan yang tinggi dan dilakukan secara lebih efektif.

Hal tersebut hanya mungkin dilaksanakan jika kita memiliki suatu sistem informasi yang dapat mendukung kepentingan tersebut.

Tentunya sebagaimana pengelolaan aset dan komoditas lainnya, diperlukan investasi aktiva dalam membangun, mengembangkan dan memelihara sistem informasi tersebut.

Namun dalam realisasi investasi aktiva dalam sistem informasi haruslah dianalisis baik dari sisi teknis dan nonteknis terutama kelayakan keuangan.

Analisis keuangan menggunakan skema BEP dan kemungkinan jika digunakan untuk meningkatkan pendapatan haruslah dianalisis payback period-nya adalah salah satu cara untuk mendapatkan kepastian tentang tingkat kelayakannya.

Sedangkan dari sisi teknis dapat dilakukan dengan membandingkan beberapa teknologi yang kira-kira sesuai dengan kebutuhan Anda.

Apapun alasannya, pemanfaatan sistem informasi berbasis teknologi informasi dan komunikasi adalah hal mutlak yang harus Anda lakukan.

Apapun inti dan sebesar apapun kelas bisnis Anda, pemanfaatan sistem informasi adalah kebutuhan mendasar untuk dapat setidaknya bertahan dalam menjalankan usaha di tengah-tengah persaingan yang semakin ketat dan kejam.

Lakukanlah survey, analisis dan perencanaan yang matang dan menyeluruh dalam melaksanakannya. Jika Anda kesulitan, sewalah konsultan-konsultan perencana yang dapat membantu Anda.

Konsultan-konsultan ini dapat Anda libatkan dalam proses pengawasan dan audit terhadap konsultan pelaksana penerapan sistem informasi di lembaga Anda.

Biayanya tidak terjangkau?

Memanfaatkan aplikasi-aplikasi perangkat lunak komputer yang ada di pasaran bisa menjadi alternatif sebelum Anda memiliki dana yang cukup untuk berinvestasi dalam aktiva ERP (enterprise resources planning) di masa depan.

source : http://www.setiabudi.name/archives/362

Wednesday, July 7, 2010

Risk Analysis & Risk Management : Evaluating and Managing the Risks You Face

Almost everything we do in today's business world involves a risk of some kind: customer habits change, new competitors appear, factors outside your control could delay your project. But formal risk analysis and risk management can help you to assess these risks and decide what actions to take to minimize disruptions to your plans. They will also help you to decide whether the strategies you could use to control risk are cost-effective.
How to use the tool:

Here we define risk as 'the perceived extent of possible loss'. Different people will have different views of the impact of a particular risk – what may be a small risk for one person may destroy the livelihood of someone else.

One way of putting figures to risk is to calculate a value for it as:

risk = probability of event x cost of event

Doing this allows you to compare risks objectively. We use this approach formally in decision making with Decision Trees.

To carry out a risk analysis, follow these steps:

1. Identify Threats:

The first stage of a risk analysis is to identify threats facing you. Threats may be:

* Human - from individuals or organizations, illness, death, etc.
* Operational - from disruption to supplies and operations, loss of access to essential assets, failures in distribution, etc.
* Reputational - from loss of business partner or employee confidence, or damage to reputation in the market.
* Procedural - from failures of accountability, internal systems and controls, organization, fraud, etc.
* Project - risks of cost over-runs, jobs taking too long, of insufficient product or service quality, etc.
* Financial - from business failure, stock market, interest rates, unemployment, etc.
* Technical - from advances in technology, technical failure, etc.
* Natural - threats from weather, natural disaster, accident, disease, etc.
* Political - from changes in tax regimes, public opinion, government policy, foreign influence, etc.
* Others - Porter's Five Forces analysis may help you identify other risks.

This analysis of threat is important because it is so easy to overlook important threats. One way of trying to capture them all is to use a number of different approaches:

* Firstly, run through a list such as the one above, to see if any apply
* Secondly, think through the systems, organizations or structures you operate, and analyze risks to any part of those
* See if you can see any vulnerabilities within these systems or structures
* Ask other people, who might have different perspectives.

2. Estimate Risk:


Once you have identified the threats you face, the next step is to work out the likelihood of the threat being realized and to assess its impact.

One approach to this is to make your best estimate of the probability of the event occurring, and to multiply this by the amount it will cost you to set things right if it happens. This gives you a value for the risk.

3. Managing Risk:

Once you have worked out the value of risks you face, you can start to look at ways of managing them. When you are doing this, it is important to choose cost effective approaches - in most cases, there is no point in spending more to eliminating a risk than the cost of the event if it occurs. Often, it may be better to accept the risk than to use excessive resources to eliminate it.

Risk may be managed in a number of ways:

* By using existing assets:
Here existing resources can be used to counter risk. This may involve improvements to existing methods and systems, changes in responsibilities, improvements to accountability and internal controls, etc.
* By contingency planning:
You may decide to accept a risk, but choose to develop a plan to minimize its effects if it happens. A good contingency plan will allow you to take action immediately, with the minimum of project control if you find yourself in a crisis management situation. Contingency plans also form a key part of Business Continuity Planning (BCP) or Business Continuity management (BCM).
* By investing in new resources:
Your risk analysis should give you the basis for deciding whether to bring in additional resources to counter the risk. This can also include insuring the risk: Here you pay someone else to carry part of the risk - this is particularly important where the risk is so great as to threaten your or your organization's solvency.

4. Reviews:

Once you have carried out a risk analysis and management exercise, it may be worth carrying out regular reviews. These might involve formal reviews of the risk analysis, or may involve testing systems and plans appropriately.
Key points:

Risk analysis allows you to examine the risks that you or your organization face. It is based on a structured approach to thinking through threats, followed by an evaluation of the probability and cost of events occurring.

As such, it forms the basis for risk management and crisis prevention. Here the emphasis is on cost effectiveness. Risk management involves adapting the use of existing resources, contingency planning and good use of new resources.


source : http://www.mindtools.com